BukuReview

The Alchemist dan Keberanian Memulai Perjalanan

…that at a certain point in our lives, we lose control of what’s happening to us, and our lives become controlled by fate. That’s the world’s greatest lie.

Mungkin beberapa dari kalian cukup familiar dengan kutipan tadi, salah satu kutipan favorit dari salah satu buku yang juga menjadi favorit saya, yaitu The Alchemist atau Sang Alkemis dalam terjemahan Bahasa Indonesianya, karangan Paulo Coelho.

Buku inilah alasan yang membuat saya ingin terus berpetualang sampai saat ini. Bukan untuk menemukan “harta karun” seperti yang Santiago lakukan, tapi untuk mengenali atau mengetahui lebih banyak hal baru yang belum atau salah saya pahami selama ini.

Setiap Pencarian Perlu Keberanian

(img source: reginevaldez.wordpress.com)

Sangat berbeda dengan Santiago, dia yang berkeseharian menjadi pengembala lebih suka untuk berkeliling kesana-kemari sembari mencari pangan untuk domba-domba yang ia pelihara.

Sebelum membaca The Alchemist (dan beberapa buku lainnya), berpetualang atau bahkan berpergian merupakan hal yang cukup saya hindari. Sekalinya ingin pergi pun itu hanya untuk bermain game online di warnet dekat rumah.

Hanya dari sebuah buku banyak hal yang dapat berubah bagi keseharian seseorang, keren ga tuh?

Tetapi dari perbedaan tadi kita juga memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama terlalu nyaman dengan keseharian yang kita lewati, atau bahkan sebenarnya kami takut untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman (pada awalnya).

Perjalanan Santiago bermula dari mimpi yang terus ia alami dua kali beruturut-turut. Karena penasaran akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi Gipsi peramal, dengan harapan dapat menafsirkan mimpi yang ia alami.

Setelah itu ia bertemu dengan beberapa karakter yang mempengaruhi hidupnya mulai dari Melchizedek, sang raja dari Salem; Fatimah, seorang wanita yang ia temui di padang pasir; hingga ia bertemu dengan Sang Alkemis itu sendiri.

Buku The Alchemist oleh Paulo Coelho

The Alchemist, buku yang memberikan banyak pelajaran bagi saya

Perjalanan Santiago terus berlanjut hingga akhirnya ia dapat mengetahui maksud dari mimpi yang ia alami. Yaap, pada akhirnya sesuatu yang ia inginkan tercapai, dan lebih dari itu, dia pun mendapatkan banyak pelajaran berharga di sepanjang prosesnya.

Hal yang Dapat Dijadikan Pelajaran dari Buku The Alchemist

Setelah selesai membaca buku ini sampai akhir, saya merasa banyak sekali hal yang relatable dengan apa yang saya alami di keseharian. Engga hanya itu, banyak juga pelajaran yang bisa kita ambil dan juga dijadikan contoh.

Berikut ini beberapa pelajaran ataupun hal relevan yang menurut saya patut untuk kita ikuti:

Penasaran Akan Hal Baru

Alasan mengapa Santiago dapat melakukan perjalanan sejauh itu adalah karena ia penasaran akan mimpinya. Andai saja ia memutuskan untuk mengacuhkannya dan melanjutkan menggembala dombanya, mungkin ceritanya akan berbeda.

Layaknya anak kecil, terus bertanya ini-itu akan banyak hal merupakan sesuatu yang wajar. Mungkin saja keingintahuan itu akan membawa kita ke perjalanan menarik yang tidak kita rencanakan sebelumnya.

Bersikap Baik Pada Sesama

Kembali ke adegan di alun-alun, ketika Santiago bertemu dengan Melchizedek, sang raja dari Salem. Kesabaran untuk bersikap baik saat itu menuntunnya untuk lebih dekat dengan mimpinya.

Ia bisa saja bertindak kasar pada pria tua itu untuk mengakhiri obrolannya, tetapi sikap kesabarannya lah yang akhirnya membawanya ke dalam obrolan demi obrolan penting lainnya.

Gumuk Pasir Parangkusumo

Foto diambil di Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta saat melakukan traveling

Hal ini dapat kita contohkan saat sedang berkelana atau traveling. Tidak hanya berlaku pada orang lain saja, bersikap baik pun berlaku pada diri sendiri dan juga alam sekitar. 

Dapat menahan untuk tidak membuang sampah sembarangan pada saat naik gunung misalnya, merupakan sikap yang baik pada alam maupun orang lain. Selain tetap menjaga keasrian alam, pemandangan atau suasana tempat tersebut pun dapat terjaga sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang.

Seperti The Alchemist, Fokus Pada Tujuan

Ada kalanya Santiago melupakan tujuan utamanya untuk mencari harta karun. Hal ini terjadi saat ia bekerja di suatu toko kristal di daratan Afrika, hampir setahun lamanya ia melupakan mimpinya.

Hal ini juga sangat relevan pada diri saya sendiri, dimana seringkali fokus utama kita terpecah dan malah melakukan hal tidak penting lainnya hanya karena kita jenuh.

Pada Akhirnya Pasrah Pada Hasil Akhir

Apabila kita merasa sudah berusaha secara maksimal, sudah mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang ingin kita capai akan tetapi hasil mengatakan sebaliknya?

Pernah mendengar pepatah “hasil tidak akan menghianati proses”? Mungkin usaha kita memang belum maksimal, atau belum waktunya agar hal yang kita inginkan tercapai.

Yang kita perlukan yaitu lakukan iterasi terus menerus atau mungkin hanya perlu menunggu hasilnya saja.

Kutipan tentang rasa takut

Kutipan tentang rasa takut yang pada akhirnya menjadi pegangan untuk diri sendiri

Cukup sekian postingan saya kali ini tentang alasan mengapa saya suka melakukan traveling dan pengaruh buku The Alchemist pada perjalanan saya. Apabila kalian memiliki  pandangan, saran atau hal lainnya jangan sungkan yaa untuk tulis di kolom komentar.

Jangan lupa juga follow akun instagram saya di @keantahbrnth. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Score from Us:

Click to rate this post!
[Total: 3 Average: 5]

Leave a Comment